Langsung ke konten utama

Uang 17 Triliyun Itu Kemana?

Walaupun saya tidak hadir di acara khenduri Kebangsaan. Saya sempat nonton secara live pidato presiden. Memang saya tunggu, saya penasaran apa jokowi akan bahas tentang aceh. 

Saya menerima point penting pidatonya. Yaitu tentang 17 triliyun dan 14% kemiskinan di Aceh. Ini angka yang fantastis  yang membuat provinsi lain cemburu. Ini angka yang besar!. "Ngop peng syedera" tapi angka kemiskinan di aceh 14% juga tidak kalah besar.

APBD Aceh mencapai Rp 9 triliun. Sedangkan dana otonomi khusus jumlahnya sebesar Rp 8 triliun. Angka tersebut belum termasuk APBD di kabupaten dan kota yang ada di Aceh.

Dengan jumlah uang yang demikian besar, Jokowi meminta supaya pemda melakukan pengeloaan yang baik, fokus menurunkan angka kemiskinan, pengeloaan yang bersih, dan akuntabel. Saya masih bertanya-tanya dalam hati sampai sekarang "ho ka imee peng kop jai nyan?" 

Kemaren salah satu komunitas sosial kabupaten bireuen "Kami Peduli Bireuen" membuat lomba foto potret kemiskinan Bireuen. Saat melihat beberapa foto, sejenak saya terdiam, hati saya sungguh tersentuh, perasaan sedih bercampur iba, ada apa dengan provinsi penyumbang emas dan pesawat untuk NKRI ini. Kini saya bertanya kemana uang 17 Triliyun?.

Cerita ini bukan dongeng saudaraku, di sebagian pedalaman Aceh Ada orang sakit parah tidak ada uang, ada anak kekurangan gizi tidak ada yang peduli,  ada keluarga yang tidak mendapat tempat tinggal yang layak. Ada lansia menangis di sudut pojok rumahnya sambil menyapu kepala yang basah karena atap rumbia yang bocor, ada ibu-ibu janda menghidupkan 8 anaknya sendirian menjadi buruh cuci pakaian.  Saya bertanya lagi kemana uang 17 triliyun?.

Jadi ingat komentar salah satu tokoh nasional di negeri ini pada tahun 2018 yang lalu. Beliau Bekas Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Menko Maritim), Rizal Ramli mengatakan "Aceh merupakan daerah yang memiliki dana Otonomi Khusus (Otsus) cukup besar, namun pak rizal ramli sangat prihatin karena sejauh ini belum terlihat hasil yang cukup baik. Ada dana Otsus yang lumayan besar, saya kaget dan sedih kok hasilnya nyaris tidak ada". 

Pak Rizal Ramli mengaku Aceh merupakan daerah yang kaya baik dari segi pendapatan, rakyat yang berani melakukan inovasi dan juga pintar. Namun dirinya merasa sedih karena ekonomi Aceh pada tahun 2017 hanya tumbuh 4,2 persen, dibawah rata-rata nasional 5 persen. Rizal Ramli menyayangkan proses penggunaan dana Otsus tersebut selama ini tidak jalankan secara transparan dan bahkan belum tepat sasaran".

Lewat tulisan ini, saya salah satu pemuda asli dari aceh. Coba teman-teman aktifis  para mahasiswa yang lagi tidur nyenyak yang masih belum terkontaminasi dengan penyakit penjilat. Ayo mendesak pemerintah agar mengumumkan jumlah serta penggunaan dana Otsus melalui media massa, sampai pada penanggung jawab hingga manfaat dari proyek yang dilakukan tersebut. Sebutkan untuk apa saja, proyek apa saja, yang tanggungjawab siapa, koordinatornya siapa, manfaatnya apa?". Karena kini saya semakin ingin bertanya kemana uang 17 triliyun.

Saya tidak menuduh siapapun, hanya ingin bertanya, supaya tidak dianggap generasi apatis. Saya takut hilang akal saya. Atau saya tidak mau, kalau akal saya bisa dikendalikan orang lain

Pepatah aceh menyebutkan " ie sikai, bu sikai, ngop jantong gadeh akai" hai ka leupah tro, lebeh parah nyoe ngop 17 triliyun hana meuho!.[Y]

Penulis : Rizki Dasilva, S.pd.I, MA,

Postingan populer dari blog ini

Mawardi Ali : Kehadiran Lab Litbangkes Harap Dapat Mengembangkan Riset dan penelitian Bidang Kesehatan,

sumber: mediacenter Acehvoice.com | Aceh Besar -  Ir. H. Mawardi Ali hadiri peresmian Laboratorium Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Aceh di Desa Bada Lambaro, Aceh Besar, Rabu, (26/02/2020). Dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya terhadap kementerian Kesehatan dan Balai kesehatan Aceh yang sudah Membangun Laboratorium penelitiannya di Aceh Besar. "Dengan terbangunnya Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Aceh di Aceh Besar ini semoga terus dapat mengembangkan riset dan penelitian dalam bidang kesehatan dan bermanfaat bagi Masyarakat", ujar Mawardi Ali. "Seperti kita ketahui Bersama Laboratorium memaninkan peran penting dalam pendeteksian, penilaian, respons, pemberitahuan dan pemantauan peristiwa yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Laboratorium merupakan bagian mendasar untuk mendukung kegiatan program kesehatan mulai dari pengawasan, diganosis, pencegahan, pengobatan dan penelitian dan promosi kesehatan", Papar Mawar...

Kasus Pasien Meninggal Karena Salah Suntik, 2 Perawat di Aceh Barat Penjara 2 Tahun

Acehvoice.com | Meulaboh - Dua perawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Nyak Dhien Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, divonis masing-masing 2 tahun penjara karena terbukti salah menyuntik pasien hingga meninggal dunia. Keduanya ialah Erwanty dan Desri Amelia Zulkifli. Dikutip dari situs resmi Pengadilan Meulaboh, Jumat (31/1/2020), kasus tersebut bermula saat korban Alfa Reza dibawa ke rumah sakit karena karena tertusuk kayu pada paha kiri sampai ke bokong. Dia masuk ke ruang IGD pada Jumat, 19 Oktober 2018. Sejam berselang, tim dokter melakukan tindakan operasi terhadap korban. Setelah selesai menjalani operasi, korban dipindahkan ke ruang perawatan anak. Dokter kemudian memerintahkan Erwanty, Desri, serta beberapa perawat yang bertugas jaga untuk memberikan obat kepada korban. Pada malam hari sekitar pukul 21.00 WIB, terdakwa Desri membuka buku rekam medis untuk melihat obat yang harus disuntikkan ke Reza. Dia melihat ketersediaan obat pada kotak obat Reza hanya satu. ...