Langsung ke konten utama

Gerakan Bantu Tim Medis Aceh, "Ayo Bergerak Untuk Kemanusiaan"


Acehvoice.com | Banda Aceh -Pada tanggal 30 Januari 2020, WHO menetapkan COVID-19 sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC)/ Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Yang Meresahkan Dunia (KKMMD). Pada tanggal 12 Februari 2020, WHO resmi menetapkan penyakit novel coronavirus pada manusia ini dengan sebutan Coronavirus Disease (COVID19). 

Pada tanggal 2 Maret 2020 Presiden Joko Widodo mengeluarkan pernyataan resmi soal orang Indonesia yang positif terkena virus COVID-19 (Corona) yang merupakan kasus pertama di wilayah Indonesia. Indonesia telah melaporkan 2 kasus konfirmasi COVID-19. Pada tanggal 11 Maret 2020, WHO sudah menetapkan COVID-19 sebagai pandemic.

Setelah Provinsi Aceh ditetapkan sebagai Zona Merah setelah salah satu pasien ODP (Orang Dalam Pengawasan) meninggal dunia setelah dirawat dirumah sakit umum Zainal Abidin dan pasien dinyatakan positif setelah hasil tes yang dikirim ke Jakarta tiba di Banda Aceh 2 hari pasca pasien meninggal dunia. 

Berdasarkan informasi dari Tim Percepatan Penanggulangan Covid-19 Provinsi Aceh, hingga 2 April 2020, pukul 15.00 WIB. peningkatan positif Covid-19 menjadi 5 kasus, peningkatan jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) mencapai 1003 orang, peningkatan jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) mencapai 49 orang. 

Kondisi geografi Provinsi Aceh sangat berdekatakan dengan Negara Malaysia dimana alur lintas masyarakat Aceh maupun Malaysia sangat masif. Dengan hal itu pula, kesiapan tenaga medis merupakan hal yang paling utama guna menghadapi ancaman Covid-19 di Provinsi Aceh.

Isu strategis Utama dalam rangka upaya kuratif penanggulangan Covid-19 di Provinsi Aceh terkait alat bagi tenaga medis dan non medis yang sangat minimal Alat Pelindung Diri (APD) seperti Baju, Face Shield, Masker Bedah, N95,Topi, Sepatu,  Thermo Scanner, Rapid Test Kit, Kaca mata medis, Hand sanitizer dan Alat Uji Covid-19.

Isu utama lainnnya dalam rangka upaya prefentif penanggulangan Covid-19 yaitu minimnya pemahaman dan rendahnya kesadaran serta belum berdaya masyarakat untuk ikut berpartisipasi penanggulanan di Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh.

Tujuan dari Gerakan Bantu Tenaga Medis Aceh di Provinsi Aceh untuk 1) Mengerakkan masyarakat dan para pelaku usaha menurunkan korban Covid-19; 2) Mengerakkan masyarakat dan pelaku usaha bekerjasama dengan Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota untuk menggalang dana maupun barang (alat medis) guna mendukung kinerja tenaga medis untuk penanganan Covid-19 di Provinsi Aceh; 3) Membangun dan mengembangkan wadah fasilitasi edukasi masyarakat untuk menghadapi Covid-19; 4) Membangun dan Mengembangkan pusat informasi kebutuhan alat medis dalam menghadapi Covid-19 di Provinsi Aceh. 

Target GBTMA akan mendistribusikan hasil pengalangan dana dan barang Alat Medis untuk ke seluruh Rumah Sakit Umum, Rumah Sakit Daerah Kabupaten, Puskesmas, Klinik Pratama dan Klinik Bersalin di Seluruh Provinsi Aceh.

Gerakan Masyarakat yang peduli dengan Tenaga Medis untuk penanggulanan Covid 19 di Propvinsi Aceh dimotori oleh kelompok Gerakan Bantu Tenaga Medis Aceh dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh dan berkolaborasi dengan berbagai organisasi masyarakat, organisasi profesi dan para pelaku bisnis lainnya yaitu: PDGI Aceh, KNPI Aceh,  Ikatan Mahasiswa Pascasarjana (IMPAS-Aceh Jakarta), Palang Merah Indonesia (PMI), Human Initiative Aceh, BNI Syariah, Iluni UI-Aceh, Inspirasi Keluarga Anti Narkoba (IKAN), Baitul Mal Muamalat (BMM) Aceh,  Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Aceh, Cahaya Aceh, Forum Dakwah Perbatasan (FDP), Pasha Jaya group, Rumah Zakat, Aksi Cepat Tanggap (ACT), Perempuan Lira Aceh, PP KORI Aceh, HIPMI Banda Aceh, FPRB Aceh, Dewan Dakwah Aceh, Wahdah Islamiyah Aceh, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Taman Pelajar Aceh (TPA) Yogyakarta, Taman Iskandar Muda (TIM) Jakarta dan KAMABA Bandung.

Oleh karena itu, Gerakan Bantu Tenaga Medis Aceh (GBTMA) menghimpun bantuan untuk tenaga medis Aceh agar dapat melaksanakan tugas secara optimal sesuai dengan kaidah medis yang telah ditentukan. Kami mengajak masyarakat, para dermawan untuk sudi kiranya ikut terjun turun tangan guna membantu memenuhi kelengkapan alat medis kepada para tenaga medis dan menyadarkan dan memamtukan masyarakat dalam penannggulangan Covid 19 di Provinsi Aceh.

Ayo Masyarakat Aceh Bangkit untuk Membantu Tenaga Medis Aceh, kita ikut ambil bagian dalam gerakan kebaikan #Gerakan Bantu Tenaga Medis Aceh. Mari ajak keluarga, sahabat, rekan kerja dan orang-orang yang kita kenal saling bahu-membahu wujudkan gerakan ini untuk sesama. Untuk donasi : No rekening a.n Gerakan Bantu Tenaga Medis Aceh, Bank BNI Syariah No: 1042020191, Kontak Person konfirmasi dana : dr.Nurnikmah, M.kes (081362994446)

Postingan populer dari blog ini

Kasus Pasien Meninggal Karena Salah Suntik, 2 Perawat di Aceh Barat Penjara 2 Tahun

Acehvoice.com | Meulaboh - Dua perawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Nyak Dhien Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, divonis masing-masing 2 tahun penjara karena terbukti salah menyuntik pasien hingga meninggal dunia. Keduanya ialah Erwanty dan Desri Amelia Zulkifli. Dikutip dari situs resmi Pengadilan Meulaboh, Jumat (31/1/2020), kasus tersebut bermula saat korban Alfa Reza dibawa ke rumah sakit karena karena tertusuk kayu pada paha kiri sampai ke bokong. Dia masuk ke ruang IGD pada Jumat, 19 Oktober 2018. Sejam berselang, tim dokter melakukan tindakan operasi terhadap korban. Setelah selesai menjalani operasi, korban dipindahkan ke ruang perawatan anak. Dokter kemudian memerintahkan Erwanty, Desri, serta beberapa perawat yang bertugas jaga untuk memberikan obat kepada korban. Pada malam hari sekitar pukul 21.00 WIB, terdakwa Desri membuka buku rekam medis untuk melihat obat yang harus disuntikkan ke Reza. Dia melihat ketersediaan obat pada kotak obat Reza hanya satu. ...

Mawardi Ali : Kehadiran Lab Litbangkes Harap Dapat Mengembangkan Riset dan penelitian Bidang Kesehatan,

sumber: mediacenter Acehvoice.com | Aceh Besar -  Ir. H. Mawardi Ali hadiri peresmian Laboratorium Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Aceh di Desa Bada Lambaro, Aceh Besar, Rabu, (26/02/2020). Dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya terhadap kementerian Kesehatan dan Balai kesehatan Aceh yang sudah Membangun Laboratorium penelitiannya di Aceh Besar. "Dengan terbangunnya Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Aceh di Aceh Besar ini semoga terus dapat mengembangkan riset dan penelitian dalam bidang kesehatan dan bermanfaat bagi Masyarakat", ujar Mawardi Ali. "Seperti kita ketahui Bersama Laboratorium memaninkan peran penting dalam pendeteksian, penilaian, respons, pemberitahuan dan pemantauan peristiwa yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Laboratorium merupakan bagian mendasar untuk mendukung kegiatan program kesehatan mulai dari pengawasan, diganosis, pencegahan, pengobatan dan penelitian dan promosi kesehatan", Papar Mawar...